Sunday, March 30, 2014

Blind Dog in a Meat Market

"I won't be in Penn 'till next Monday. We'll meet Tuesday."

"Excuse me sir, I have to interview one of an expert at that day.."

"Okay, let's figure it out next week. We can reschedule the session."

---
"Vina, let's meet tomorrow. 10AM. Sharp."
YES!

Pada akhirnya, setelah berulang kali merancang pertemuan dengan orang itu, Vina akan bertemunya lagi setelah Chapter 3 thesis-nya terbengkalai tanpa revisi. Pennsylvania Libary, jam 10. Malam itu Vina memutuskan untuk tidur cepat, supaya tidak kesiangan esoknya. Tidak boleh ia melewatkan waktu untuk bisa bertemu seseorang yang maha penting itu. Ia tahu orang itu begitu sibuk, begitu pintar, cerdas, kehebatannya menggaung kemana-mana. Ia keturunan Prancis - Indonesia, sehingga terkadang mereka membicarakan sejarah Indonesia. Terutama masa-masa kelam ketika pertumpahan darah dimana-mana terjadi dan kaum Tionghoa diburu-buru pada masa pemberantasan komunis. Vina juga bingung kenapa pada spesifik topik itu mereka sering berbincang dan keberadaan orang itu dengan status dosen hukum internasional pun membuatnya semakin bingung. Setelah menonton film 22 Jump Street yang dibintangi Channing Tatum, Vina sering menduga sebenarnya dosennya ini adalah seorang FBI agent yang mempunyai misi membongkar sindikasi penjualan drugs di kampus-kampus di Pensilvania. 

Vina belakangan tahu dari teknologi bernama mbah google, si maha tahu segala yang pernah terungkap di jagat raya bumi ini bahwa dosen pembimbingnya ini pernah bekerja menjadi diplomat di Indonesia. Berita tentangnya menjalar begitu cepat, bahkan sampai ke kuping teman-temannya di PERMIAS Penn State. Ibarat api yang menari-nari mengejar jejak minyak bensin yang sengaja ditumpahkan berkelak kelok. Mengingat hal tersebut membuatnya bingung, takut. Iya, takut tidak bisa menjawab pertanyaan yang nantinya diutarakan orang itu. Bagaimana Vina harus bersikap? Semuanya akan menjadi terlalu awkard. Bisa jadi karena mereka sudah lama tidak bertemu dan bisa juga karena background check yang dilakukan Vina terhadapnya terlalu dalam. Terlalu banyak yang Vina kini ketahui. "Ah, kenapa juga harus pusing tujuh keliling sekarang, seperti mau bertemu Ryan Gosling saja." ujarnya dalam hati. Vina pada akhirnya memutuskan untuk menata hatinya dan menyusun apa yang akan dilakukannya besok pagi, setelah shalat subuh saja.

---
"Itu, dia!!" Kata Vina dalam hati, disusul dengan degup jantungnya yang kencang. Terlalu kencang, bahkan Vina curiga ia bisa mendengarnya. Tiba-tiba Vina merasa ada kentungan di dalam organ hatinya. Menciptakan tempo yang ritmis namun semakin kencang seiring orang tersebut mendekat. 

Ketika mereka bertemu, Vina kemudian mengutarakan semua hal yang sudah ia rancang dengan runut.

---
Usai pertemuan itu, Vina jadi teringat sebuah idiom yang ia baca pada sebuah poster pertunjukan teatrikal sekelebat pagi ini: "Blind dog in a meat market".

Blind Dog in a Meat Market.
"Tak keruan sekali aku tadi." Begitu bergairah saat bertukar pikiran, setidaknya Vina merasa pembicaraan mereka tadi cukup berbobot. Nafsu bukan nafsu libido atau birahi. Sejenak Vina merasa bangga mereka seperti klik begitu saja.. "Sudah lama tidak merasa begini." Kata Vina, diikuti anggukan hatinya.

*FIN*

Monday, March 24, 2014

Jatah Umur Berkurang


Tanggal 6 Maret 1993, pemilik blog ini lahir ke dunia. Iya, ini post tentang ulang tahun ke 21 saya.

Dari tahun 2010, sampai tahun 2013, hari ulang tahun saya semakin lama semakin sepi. Tidak ada lagi surprise ulang tahun yang datang seperti di awal kuliah saat masih menyandang status mahasiswa baru. Tidak terlalu banyak BBM yang masuk (mungkin karena semua udah hijrah ke LINE dan saya tidak aktif di LINE). Belum ada kado yang saya terima (positive thinking aja mungkin kadonya nyusul taun depan) WAKAKAK.

Mungkin karena saya tidak banyak punya teman yang benar-benar teman, ya seperti peer-group begitu. Saya sendiri menyadari kalau saya tidak terlalu piawai menjaga pertemanan. Saya masih terus belajar dan jujur saya mengagumi mereka yang punya seseorang yang mereka panggil sahabat sejak mereka sekolah dasar atau orok (sejak orok udah whatsappan).

Sahabat sejati saya hingga saat ini ya kakak saya dan saudara saya. Annisa dan Yona. Ini juga bisa terjadi karena kita punya ikatan darah dan batin. Mungkin kalau saya tidak punya saudara, saya akan menjadi manusia penyendiri yang tidak punya sahabat. Ini bukan berarti saya tidak punya teman sama sekali. Maaf, teman saya sangat banyak. Tapi untuk dipanggil sahabat, saya kadang tidak yakin mereka bisa saya panggil seperti itu/mereka akan menoleh ketika saya panggil seperti itu.

Meskipun di saat kuliah ini saya mempunyai beberapa teman yang selalu menjadi tempat peraduan ketika mengalami kesulitan dan ketika menjalani masa bahagia, kami tidak terlalu sering bertemu di luar kampus. Walau begitu, mereka orang yang selalu saya cari di kampus. Lagi dan lagi, saya terus belajar menjaga mereka dan merasa sangat beruntung bisa mengenal mereka.

Definisi teman, sahabat memang berbeda. Menurut saya perbedaan definitif yang paling jelas adalah, sahabat adalah seseorang yang cukup beruntung untuk mendengarkan berita baik dan berbagi suka serta cukup buntung untuk menemani di kala sulit. Ia harus selalu ada dan tidak boleh bosan mendengar curhatan galau kita yang itu-itu saja. Setidaknya itu menurut saya, berdasarkan pantauan sosial dan membaca novel teenlit. Sedangkan teman ya seseorang yang kita cukup kenal saja namanya, info-info mendasar yang kita tahu ketika dia update twitter atau Path (padahal saya tidak punya Path).

Suatu hari saya pernah bertukar pendapat dengan salah seorang teman yang cukup dekat saat SMA (lagi-lagi saya ragu untuk menyebutnya seorang sahabat). Ia berkuliah di luar negeri dan kami selalu menyempatkan bertemu ketika ia pulang ke Indonesia. Tidak perlu diragukan, saya lah orang yang wajib ia temui sesampainya ia di Indonesia. Apakah ia terdaftar dalam daftar sahabat, saya tidak bisa mengatakan ya karena selepas ia kembali berkuliah di luar negeri lagi, tidak ada kontak yang berarti di antara kita berdua. Saya pernah mengirimkan email dan mencoba untuk berkomunikasi dengannya. Ia membalasnya dalam jangka waktu sekitar 1 bulan, kemudian saya membalasnya lagi dan ia tak lagi membalas. Mungkin kesibukan yang membuatnya lupa untuk sekedar mengabarkan kehidupannya saat ini. Tapi bukankah sahabat seharusnya tidak begitu? Baiklah, saya jadi lupa untuk menceritakan hasil tukar pendapat saya dan dia. Saya dan dia sama-sama menyadari bahwa menjaga pertemanan itu butuh usaha dari kedua belah pihak. Kita tidak bisa menunggu teman/sahabat kita itu untuk mengajak kita untuk bertemu. Terkadang kita yang harus memulainya dan berusaha untuk meluangkan waktu untuknya. Janjian, menentukan waktu, memilih tempat. Tanpa disadari itu adalah sebuah effort yang tidak terlalu mudah. Namun ketika untuk sahabat, tentu justru itu ditunggu-tunggu.

Ini kok jadi ngalor ngidul ngomongin arti pertemanan/persahabatan ya... Maafkan saya... Saya hanya ingin bersyukur kepada Allah SWT karena masih mempunyai teman, sahabat apalah itu yang masih mau menyempatkan untuk bertemu saya dan meluangkan waktu hingga saat ini. God bless you all teman, sahabat!

Foto yang dibuat oleh beberapa teman
saat saya berulang tahun ke-21 kemarin :)
Oke di tahun yang ke 21 ini, saya bersyukur masih bisa bernapas, masih bisa buang air besar dengan lancar (kadang macet juga kalau kurang sayur), masih bisa belajar, masih bisa galau, masih bisa main-main dan hal-hal lainnya. Saya bersyukur telah meraih beberapa pencapaian yang sebelumnya memang sudah saya targetkan maupun yang tidak saya duga-duga. Pencapaian tidaklah harus dalam bentuk sertifikat, ataupun plakat berukir emas. Salah satu pencapaian saya adalah berdamai dengan keluarga saya. Komunikasi adalah hal yang sangat penting dalam hidup ini. Kalian bisa membuktikan bahwa kalian pandai berkomunikasi di depan publik, namun arti komunikasi  yang sebenarnya adalah ketika kalian bisa menjaga hubungan baik dengan keluarga kalian sendiri. Selain itu, ingatlah bahwa mereka adalah orang-orang yang akan selalu stay.

Di samping itu, saya mulai berani untuk aktif di kelas. Meskipun kehidupan sosial saya di kampus sedikit berkurang, saya bersyukur bisa mendapatkan apa yang saya inginkan di semester ini. Meraih IP 3,84 yang mana hal tersebut di atas target saya yaitu 3,75. Selalu harus ada yang dikorbankan sedikit. Saya meninggalkan organisasi dan memulai suatu hal baru yaitu model united nations atau biasa disingkat maeMUNah. Saya jarang bermain dan cenderung anak rumahan. Sebagai seorang yang sulit menghafal jalan dan sering disorientasi arah, saya sangat bangga dapat pergi ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, mengantar proposal ke Perusahan Gas Negara, beberapa law firm dan ke gedung-gedung lainnya sendiri dengan menyetir mobil tanpa nyasar.

Pencapaian-pencapaian itu mungkin tidak penting untuk beberapa dari kalian. Tetapi saya belajar bahwa masing-masing orang mempunyai jati dirinya. Tidaklah berguna membandingkan prestasi diri sendiri dengan orang lain kecuali untuk memotivasi diri. Ketika hal tersebut justru membuat diri kita menjadi rendah diri, sungguh merugi lah kita!

Sudah 21 tahun, sudah banyak kondangan yang saya hadiri.

Kakak saya, Yona dan saya

Kakak saya, ayah saya, ibu saya dan saya
Sejak pertama kali menghadiri kondangan sampai sekarang, pertanyaan yang menghadang terus berubah. Kalau dulu "Sekarang sekolah dimana Nadia? Sudah besar ya.. Dulu masih digendong" (yaiyalah masak segede babon masih digendong). Sekarang "Wah udah semester 8 ya, kapan nih undangan ke rumah tante?" (yaduh tante, jodohnya aja lagi nyangkut dimana). Yang jelas pertanyaan yang tidak pernah berubah adalah, "Loh kamu adiknya to, dikirain kakaknya...." (ya kalo ini emang nasib aja sih punya kakak kering kerontang, hiks padahal ia sudah minum appeton weight gain *ups bukan blog berbayar).

Bertambahnya umur juga dapat diindikasikan dari banyaknya "perkakas" dan "perabotan" yang dipersiapkan sebelum berangkat kondangan, alias make-up. Berbekal alat rias seadanya, saya belajar mempercantik diri saya. Dahulu saya cuman pakai bedak dan lip gloss. Tidak peduli dengan bentuk alis  yang seadanya dan pipi besar yang ukurannya dapat dipersamakan dengan bakpau daging yang sering dijual di pinggir jalanan ibukota yang macet.

Saya dan kakak saya bersama-sama dalam perjalanan untuk menemukan cara agar diri kita terlihat lebih cantik. Ini tidak terdengar menyedihkan, tapi ini tuntutan sosial! Cantik memang tidak hanya dilihat dari parasnya saja, namun saya belajar bahwa terlihat cantik secara fisik adalah bentuk apresiasi terhadap diri sendiri (selain jadi bisa dipamer-pamerin sama orang tua).

Saya bersukur saya pernah bersekolah di Taruna Nusantara, karena gemblengan para pamong (guru) dalam hal fisik, bentuk tubuh saya kini membuat saya lebih percaya diri. Kalimat yang pasti saya dengar ketika di kondangan adalah "Ini Nadia? Dulu kayaknya gendut banget, kamu diet ya? Langsing yaa sekarang". Honestly, saya merasa lebih percaya diri dari saat saya SD, ketika saya dipanggil Giant (bahkan bukan Jaiko), dan ketika saya SMP. Namun saya tidak merasa diri saya sekarang sudah sempurna, cantik dan maha anggun. Oh tidak, saya masih belajar untuk menjadi wanita anggun dan kejawen. Halah. Setidaknya pilihan baju menjadi lebih banyak dan beberapa baju kakak saya menjadi muat untuk saya pakai.

Saya juga tidak berkata bahwa sekarang saya pintar berdandan. Oh tidak juga, saya masih terus belajar dan follow instagram make-up tutorial. Saya juga bangga karena yang saya raih saat ini bukanlah sekedar cinta satu malam *eh. Maksudnya, bukanlah sesuatu yang saya capai secara instant. Sekarang saya tidak serakus dulu, mengembat makanan kakak saya yang tidak habis. Saya makan tetap 3x sehari dengan nasi merah, karena ketika saya mencoba diet OCD (obsessive compulsive disorder) *loh bukan, maksudnya diet Deddy Corbuzier itu loh, saya langsung tepar dan masuk rumah sakit hiks. Saya sempat nge-gym sih 1 tahun, tapi abis itu berhenti karena nunggak terus bayarnya, gak mampu cyin. Yaudah deh hidup sehat aja, lari pagi tiap hari Minggu dan minum susu untuk tulangku.

Eh iya, baju yang dipakai kakak saya dan saya di tiap kondangan itu desain ibu saya dan kakak saya loh! Bagus nggak sih? Kita dari dulu tuh mau bikin butik tapi belum percaya diri dan menemukan konsep yang pas. Doakan yah teman-teman! Oh doakan juga saya cepat menemukan cita-cita saya..... Saya juga akan doakan kalian mendapat pekerjaan yang kalian cintai! Susah loh. Saya hingga sekarang sangat mengidolakan mereka yang bisa menemukan passion-nya sehingga berani ambil kuliah tata rias, tata boga, tata dado *loh. 

Itu aja sih kayaknya yang harus disampein di ulang tahun ke 21 ini. Walau saya yakin euy gak ada yang peduli juga HAHA. Terimakasih sudah baca postingan saya hingga saat ini! :)

XOXO,
NSA.

Mentoring with Garuda Indonesia's CEO (Mr. Emirsyah Satar)

"In 2001, a man decided to join a company which was almost collapsed, not to mention the company's bad reputation. He did turnaround to the company and made it healthy again. He left the company after 5 years of dedication. Apparently the company showed no good progress as he left. He came back again in 2005 and he made the company achieve many awards and recognitions from the world."

Do you want to have a guess?

Yup. He is Mr. Emirsyah Satar and the company is Garuda Indonesia.

---

Last Wednesday it was such a pricessless moment that I had the opportunity to meet and discuss in person with Mr. Emirsyah Satar along with other 20 chosen young bright people in his office, Garuda City Centre. At that time we gathered in an event called "Super Mentor", a leadership program organized by Mr. Dino Patti Djalal, former Ambassador of Indonesia for United States of America.

Mr. Emirsyah Satar started the discussion with his presentation
I believe that human is a photo copy machine. We just need to find out and learn other people's story of success and copy it in our own way.

Mr. Emir shared many things about his strategies to 'cure' Garuda Indonesia. He said that he changed the mindset of the employees. He asked Addie MS to make a special song for Garuda Indonesia so the employees will be proud and live their own role in the company maximally. Up until now, he arranged 7000 employees and he use the top-down approach in leading them. What does it mean? It means that leadership is the key. He said there should be no democracy in business. It's leader's job to bring the whole team to a place they have never been before. He quoted John P. Kotter, "Successful change is 70 - 90 % leadership, 10 - 30 % management".

When I asked him about his motto of life, he said "Good is never good enough when much better is expected". Aside from that he said "I have never compared myself to anyone. Even in my workplace, I never know how much my friends got paid. I'm just focus on what I'm doing and do the best, later on the opportunities will rise."

Mr. Emir basically is a man who loves challenge. He said that it's in his DNA. Living as a son of a diplomat, he had a good ability to adapt in a new situation quickly. That's why he left Citibank. When he reached the highest position he could achieved in Citibank, he said to himself "It's time to leave".

In Garuda, he built the perspective of career step based on meritrocacy, not based on duration of work. At first, this was opposed but he believed that there were still great workers in the company who were willing to take Garuda to the next level just as much as he wanted to.

He values every opinions and he believes that every each of us should re-invent ourselves everyday. This means that everyday we have to be able to think about creative idea to do things more efficiently, effectively. When we're about to start to make it as a habit, of course the idea won't popped out directly. But then again, we have to begin to get used to it.

His ambitious goals have made Garuda to be able to achieve a prestigious award from "Sky Trax" which was "The World's Best Economy Class" and the 8th position in "The World's Best Airline". Leading an airline company within a super tough industry, he still wants to spare some time for cleaning up the airplane's cabin. Every 3 months, the board of director and him supervise the cleanliness of the cabin and also join the clean-up. Fyi, they also clean-up the lavatory! Furthermore, he always tries to balance his life. When he has a leisure time, he never miss the opportunity to maximize it with his family and relatives.


---

Meeting an inspiring person has always been a great opportunity because I always feel "charged" afterwards. I wish I can be an inspiring person which gives real contribution to the nation like him. The other bonus in this program is that we can meet new young people and share ideas. The funny thing is, there are two people that apparently have already met me before. We joined the same competition.

Thank you Pak Dino for this opportunity! If you guys think you deserve an opportunity to be mentored by other great figures, follow @dinopattidjalal for more info and prepare your CV and motivation letter :)

Supermentor Batch 5
XOXO,
NSA.

Saturday, March 8, 2014

The Inspiration Behind Valentine for Cancer

Hello world!

Sorry for not posting here since ages. I'm going to tell you all about my project, Valentine for Cancer. The idea to support kids with cancer came from a book titled "The Fault in Our Stars". It is a weirdly-cute love story between Hazel and Augustus. Both of them are surviving cancer. When I read the book, I felt like I'm inside of the story and I could feel their pain as teenage who suffered cancer in such a young age. Hence, they could still feel the love to each other and cherish every time they can be together.

I realized that kids with cancer can actually be cured from the articles in the internet. I also found out that they need friends to accompany them play, share stories and laugh together. So I gathered my friends in Leo Young Club Jakarta Kota to make an event called "Valentine for Cancer", where we gave the kids entertainment, share love and compassion.. Nothing's more relieving than to see them smile :)

Beside collecting money, we also collecting photos of support from many people accross the world. We made two songs (Bergandeng Tangan and Berbagi Terang) in order to accomplish that. We collect that photos and compile it to a video of support for the kids with cancer in Yayasan Onkologi Anak Indonesia.

Thank you John Green for writing such a beautiful story and for being an inspiration!

video
Berbagi Terang - Avi Athalia

video
Bergandeng Tangan - Pingka Dedja Alifa

And here is the result of the compiled photo of support!

video

As the project leader I would like to thank all the people who helped me to make this project. Firstly to my parents and sister who've always been very supportive. The team from Leo Young Club Jakarta Kota: Mbak Wulan Prameswari who happened to be my Vice and bigger sister, thank you Mbak! Thanks to Mbak Muthia Zahra Feriani who made the song "Berbagi Terang" and the team who recorded the song: Avi Athalia, Willy, Bang Yonathan Luther, Bang Azhe, Hillary, Khalisah, Bimo Adi. Muhammad Kasyfunnur and his friend who made "Bergandeng Tangan" song and the recording team Banyu, Aqdi Hamawi, Angga Poleng Kurniawan, Annisa Dwi Yuniarti, thank you! Also to Pingka Dedja Alifa, my best friend and the best media team I could've asked for, with Berdie and Mega as the staffs. Luthfi Prasetya, production and design coordinator. Steffira Kusumadevie and Risca Andalina, the treasurer and secretary of the committee, thank you so much! Avil Ardendo and Herinda Kusuma, the best Vice and Logistic and President! I couldn't thank you guys enough for the never ending help. Anandra Achmad Rinaldo Soroinda Nasution a.k.a. Edo and Raden Roro Pungky Kusumastutie a.k.a. Pungky as the volunteers, I love you guys!

Well I wish I didn't miss anybody. Thank you again guys, it's been a pleasure to work with you all!
The only wish is that the kids were happy after the event and they know that they're not alone! :)

Cheers,
NSA

Sunday, February 2, 2014

Sang Pemaaf

Biasanya seorang pemaaf itu seorang penyabar yang ulung.
Aku sedang belajar menjadi seorang pemaaf meski benar-benar sulit bung!
Seorang yang pemaaf sekaligus penyabar.
Mulia sekali bukan?

Menjadi pemaaf itu bukan beararti ia bisa diinjak-injak.
Justru ia menginjak balik dalam diamnya.

Orang yang banyak omong itu, sesungguhnya adalah orang yang ketakutan.
Butuh pengakuan.

Yang diam, yang berkuasa.
Justru ia meredamnya, untuk kemenangan.
Yang tenang, yang benar-benar punya asa.
Bukannya terbakar dalam kemarahan.

Hei teman, belakangan ini aku banyak belajar.
Manusia itu pada dasarnya mesin fotokopi yang canggih, lho.
Meski aku bukan seorang ibu peri yang kesabarannya tak berbatas, setidaknya aku mau meniru sang pemaaf.

Friday, January 31, 2014

Surat untuk Ayah Mili

Untuk Ayahku,
Dari Mili

Hari ini hari Kamis, 2 Januari 2014. Ya, hari kedua setelah pergantian tahun. Seharusnya tidak ada sesuatu hal yang berbeda hari ini. Tidak ada yang berulang tahun, tidak ada perayaan hari jadi, tidak ada peringatan, pernikahan, apa pun. Seharusnya hari ini menjadi hari biasa yang berlalu seperti rutinitas yang seharusnya. Aku yang bangun siang karena sedang libur dan memang tidur larut, Kakak yang (biasanya) juga masih tidur tapi sekarang sudah ada di meja makan bersama Ayah dan Ibu.

Aku yang baru terbangun dari sofa hitam di depan TV memutuskan untuk tidak langsung bergabung karena masih mengantuk dan justru memutuskan untuk melanjutkan tidur di kamar Ibu. Namun tidurku tidak lagi lelap. Ada yang aneh. Kudengar tangisan sendu penuh kesedihan. Aku pikir tangisan itu berasal di mimpiku. Tapi ternyata tidak… Aku bergegas keluar kamar dan ternyata tangisan itu berasal dari dua wanita kuat yang terlihat sangat lemah saat itu. Bersimpuh di bawah kaki Ayahku. Tiga orang yang sangat kusayang, berada dalam satu bingkai yang sangat membingungkanku. Apa yang terjadi? Aku mencoba mengumpulkan nyawa dan mencerna apa yang terjadi. Saat itu aku bak berada dalam situasi dua tahun yang lalu, saat mimpi buruk menyergap. Mimpi buruk yang kelam dan gelap yang pernah ada di alam mimpi dan akan terlalu pekat untuk bisa melihat, dalam hidup seperti itu.

Ayah dan Ibuku akan bercerai.

---

Kepada Ayahku yang membaca ini..

Tidak akan cukup ratusan kata pun untuk menjelaskan betapa anak perempuanmu ini begitu menyayangi Ayah. Tidak akan cukup ribuan kata pun untuk mengungkapkan rasa terimakasih atas segala apa yang Ayah telah berikan kepadaku.

Di balik perangai Ayah yang terlihat dingin dan cenderung tak acuh. Aku tahu, Ayah selalu menjaga anak-anaknya dari kejauhan. Ayah selalu menjadi seorang yang setia menunggu Kakak dan Mili hingga larut, sekalipun harus tertidur di depan sofa hitam di depan TV yang menyala. Ayah tidak akan tidur tenang di kamar Ayah kalau belum membukakan pintu untuk anaknya yang baru pulang dari bersenang-senang. Usai memastikan aku dan/Kakak telah mencium tangan Ayah yang berjari gemuk itu, barulah Ayah bisa tidur dengan pulas.

Di balik sosok Ayah yang tidak pernah secara gamblang mengatakan “Ayah kangen Mili”, atau bahkan “Ayah sayang Mili”, Mili tahu rasa sayang Ayah tidak pernah ada yang bisa menandinginya. Sampai-sampai Ayah, seorang direktur yang selalu mendapatkan fasilitas kelas satu, rela ngebut-ngebutan dengan ojek, melaju kencang agar bisa segera sampai ke kantor polisi Pasar Minggu, menjemput anaknya, menenangkan anaknya yang kalut, menyelesaikan masalah yang terlalu besar yang bisa diselesaikan oleh anaknya. Padahal saat itu ia sedang bekerja. No matter what, ia selalu ada, untuk anak perempuannya. Saat itu Mili mengalami kecelakaan di jalan hingga menabrak seorang pengendara motor. Ayah ingat itu? Mili tidak akan pernah lupa.

Di balik sosok Ayah yang keras dan disiplin, Ayah tidak bisa berkata “tidak” untuk anak perempuannya. Kalau Ayah bisa membantu, Ayah akan selalu membantu anak-anaknya. Saat itu aku sedang masa orientasi SMP. Tidak membawa satu atribut saja adalah hal yang sangat fatal. Dengan nada penuh ketakutan Mili mengadu pada Ayah. Kukira Ayah tidak akan membawakan seuntai dasi yang tertinggal itu. Tapi ia bukan Ayahku kalau tidak berjuang untuk anaknya. Hanya Ayah yang mau rela jauh-jauh layaknya dari Sabang ke Merauke untuk mengantarkan itu.

---

Ayah, tidakkah engkau sadar betapa berartinya kehadiranmu di dalam hidupku?

Begitu besar jasamu, begitu besar hatimu. Perjalanan hidupmu menjadi inspirasi banyak orang. Perjuanganmu selalu menjadi panutanku; seseorang yang bekerja dari keadaan yang kurang dari berkecukupan hingga bisa menjadi seperti sekarang.

Sungguh Ayah, Mili masih membutuhkan kehadiranmu bersama dengan Ibu dalam hidupku untuk seterusnya. Tidakkah Ayah ingin mengantarkan anak gadisnya berjalan di pelaminan, bersama Ibu, istri Ayah yang melahirkanku dan merawat Mili berasama Ayah hingga sebesar ini?

Tidakkah Ayah ingin menimang cucu, dan ketika cucu itu besar, ia akan dengan bangga berkata pada teman-temannya “besok aku mau ke rumah eyang kakung dan eyang putri, kita mau liburan bareng”. Harapan akan angan Mili yang seperti itu akan segera sirna, apabila Ayah dan Ibu tidak lagi bersama…

---

Ayah, keputusanmu pagi ini, begitu mengguncang Mili. Seberapapun Mili mencoba untuk mengabaikannya, bagaimanapun Mili berusaha keras untuk tidak memikirkannya. Beberapa jam ini telah membuatku kebingungan. Apalagi kalau memang sampai benar-benar terjadi……….

Kuharap keputusanmu belumlah bulat.

Ya Allah…

Mili ingin membuat Ayah dan Ibu bangga saat Mili wisuda nanti. Mili ingin bisa membuat Ayah dan Ibu bersama-sama menunjuk Mili, anak perempuan yang menggunakan toga hitam berkalung merah di barisan mahasiswa Teknik bergelar cum laude, berkata pada bapak dan Ibu di sebelah kalian, “hei, itu anak kami”.

Ya…. Karim….,

Walaupun Ayah selalu berkata Mili telah membanggakan Ayah, Mili percaya Mili belum cukup melakukan hal yang membanggakan Ayah. Mili masih ingin berbakti, membiayai Ayah dan Ibu naik haji bersama-sama.

Ya Allah, Ya Rahman

Salah satu ayat dalam kitab Al Quran, pedoman segala umat, mengatakan bahwa “Allah tidak akan memberikan cobaan yang tidak bisa diselesaikan oleh umatnya”, apakah ini cobaan yang bisa kutopang ya Allah? Maafkan hamba yang tidak tahu apa-apa ya Allah, namun kali ini hamba rasa tidak, sungguh ini benar-benar di luar kuasa hamba ya Allah…

--- 

Ayah,

Benarkah engkau akan meninggalkan Mili Ibu dan Kakak? Menanggalkan begitu saja janji suci perkawinan di antara Ayah dan Ibu?

Are you really gonna let me down and leaving me alone, facing the big world unguided?

Ayah,

Izinkanlah Mili meminta satu permintaan, satu saja permintaan… Bertahanlah Ayah. Mili tahu Ayah sakit, terluka dan tak berdaya. Ada bagian dari diri Ayah yang egois dan tidak ingin menerima keadaan seperti ini. Mili tidak meminta apa-apa, kecuali kepada Ayah untuk kembali pada Yang Maha Esa… Untuk meminta pencerahan dari-Nya. Janganlah mengambil keputusan dengan pikiran yang emosional dan kepala yang panas.

---

Ya… Rabb

Tidaklah pernah Mili menyerah untuk keluarga Mili. Saat Mili kecil, Mili sangat sering dimarahi Ibu yang cerewet. Dulu Mili pernah meminta Engkau untuk mengganti Ibuku. Aku tuliskan itu pada selembar kertas dan kukirimkan pada-Mu. Namun ternyata alih-alih Kau terima, justru Ayah yang membacanya. Masih teringat jelas dan melekat dengan sangat erat dalam laci ingatan Mili bahwa Ayah memberikan pencerahan bahwa Ibu melakukan itu semua demi kebaikan Mili. Mili boleh kesal pada Ibu, tapi meminta Allah untuk mengganti Ibu dengan Ibu yang lain adalah suatu kesalahan terbesar yang pernah kulakukan. Itu kata Ayah. I admit that, I’ve never been so wrong in my life, and you were the one who reminded me about that.

Keluarga adalah tempat dimana Mili bisa menjadi diri Mili yang sesungguhnya tanpa harus takut akan ditinggal. Tempat dimana Mili selalu dihargai dan didengarkan seberapa buruk pendapat Mili. Mili tidak pernah berpura-pura dan selalu bisa terbuka. Because all I know is that family means no one gets left behind.

---

Atas segala apa yang telah Ibu perbuat, tolonglah Ayah, ampuni Ibu… Allah, Zat Maha Kuasa yang  menciptakan alam jagat raya saja adalah Maha Pemaaf yang Agung, tidakkah Ayah ingin memaafkan Ibu dan melihat Mili dan Kakak bisa kembali bekerja keras untuk bisa membanggakan kalian berdua?

Bukannya Mili membelanya, tapi Mili hanya ingin keluarga ini utuh kembali. Bukannya aku ini lebih sayang pada Ibu, percayalah, jika benar ada timbangan kasih sayang antara untuk Ayah dan Ibu, aku berjanji tidak akan ada salah satu sisi yang lebih berat!

---

Ayah, pria terbaik yang pernah Mili temui…

Sesungguhnya keberuntungan Ayah, pengharapan Ayah, tak lain dan tak bukan ada pada Ibu dan anak-anak. Mereka akan sirna pula dari kehidupan Ayah jika benar kata perpisahan adalah kata-kata yang Ayah inginkan. Mili percaya tidaklah akan tenang hidupmu Ayahku. Ketika Ayah dulu tidak punya apa-apa, Ibu mempercayai Ayah dan setia berada di sisi Ayah. Terlepas dari kekurangannya, Ayah pun juga kurasa punya kekurangan. Tak perlu kusebutkan apa, bertahun-tahun Mili menyaksikan kehidupan pasangan suami-istri antara Ayah dan Ibu.

Sungguhlah aku tidak menyangka Ayah sampai hati memutuskan untuk menjatuhkan hukuman yang sangat kejam ini pada Ibu, yang juga secara tidak langsung pada Kakak dan Mili, kedua anakmu.

---

Ketika Mili melihat sebuah acara TV tentang seorang anak yang harus menjadi anak yang tidak lagi mempunyai keluarga yang utuh, Mili begitu iba padanya. Tidak bisa Mili bayangkan betapa berat hidup yang harus dihadapi anak itu. Begitu berbeda dan tidak lagi sama. Tak dinyana bayang-bayang hidup mengerikan seperti itu kini sangat dekat denganku, Mili dan Kakak, akan menjadi anak broken home

Beberapa kali Ibu menanyakan pertanyaan ini: “Kalau Ayah dan Ibu cerai, Mili mau tinggal sama siapa?”

Dari segala pertanyaan apapun di dunia ini, mau pelajaran paling sulit apapun macam Fisika dan Matematika yang aku sering mengulang karena terlalu bodoh untuk mengerti kek, atau mata kuliah macam Bioproses yang mana semua orang memaki soalnya setelah ujian kek, tidak ada pertanyaan sesulit pertanyaan dari Ibu itu. TIDAK ADA. Karena Mili TIDAK INGIN MENJAWABNYA.

---

Mili menuliskan semua ini murni dari hati Mili. Tidak ada paksaan, tidak ada suruhan, tidak ada dorongan dari pihak ketiga. Baik Kakak, Ibu, siapapun itu.

Mili harap surat ini cukup memberikan gambaran, betapa hancurnya, berkeping-keping hati ini ketika palu godam ucapan Ayah pagi ini tertangkap indera pendengaran Mili. Masih selalu ada banyak waktu untuk mengelemnya kembali. Tapi tidak akan bisa disatukan, kalau perceraian itu sampai terjadi.

Sumbu-sumbu mimpi Mili butuh untuk diberi api, hanya support dari Ibu dan Ayah serta Kakak secara utuhlah yang bisa menyalakan lilin mimpiku.

---

Ayah, Mili masih ingat jargonmu yang dulu sering kau dengungkan, namun jarang sekali terdengar akhir-akhir ini: Yang penting, anak dan istriku bahagia

And you know what, Ayah? I am not happy at all with your decision about the divorce. I know you’re a good man and definitely not a liar. Please think about this hundred, thousand, million times.

Love you forever Dad,

From your daughter that wants her family stay together until she dies

Monday, July 22, 2013

Day 12: Our Sahur

July 21st 2013
Yes... WE FINALLY REACH THE LAST PHOTO CHALLENGE! It's our delicious food for early breakfast (sahur) !!!! On the first day of sahur, we ate instant noodle + soy bean milk. But, we didn't like the instant noodle + we only have limited choice for the taste. Most of their instant noodle mixed with pork :(

Then days after that, mostly we only eat bread or kind of onigiri and milk, bought from Seven Eleven. Thanks to Scott and Troy for choosing us the best bread every night :)) This probably not enough for the rest of the day, but hey, we nailed all the days of fasting we spent in Taiwan. Even in the day of amazing race :D

Oh by the way, I didn't eat the bag and fabric and the name cards. I just put it there because usually we ate the sahur at night, after any activity. Not in the early morning, because most of the time we couldn't wake up x) hahaha.

So the conclusion of this ST: UNDENIABLY AMAZING. I have to go back to Taiwan someday. Amin.

Oh, lastly I want to thank all the OCs, Caretaker, Table Coordinator, Staff, other delegate for the amazing memories in the ALSA Taiwan ST. I want to thank my local board for the help during the preparation, specially Pucil - staff of External Affaris (she's been really helpful and responsive answering my questions); to my national board, specially Anyun, Kak Nasyat, Kidy, Nesi, Bagus. Thank you very much for the opportunity!

EH, ALSO TO MAKATI WANDANSARI... Never thought I'd be able to have such great partner like you, sister! Thanks for being very patient & fun companion, roomie, partner in crime during the ST. It's so amazing that you could understand Chinese language and give response to our Taiwanese friends although only a little bit. It's also a bless to have you as my sahur and fasting partner, and looking-for-place-to-pray partner. I send you my highest apology if I unintentionally lose my temper when we prepared the Welcoming Party performance and the cultural night performance. The results paid off, right? Love you Kati! :)

XOXO,
NSA.

Day 11: Cutest Clothe Combination

July 20th 2013

I always love their dressing style, and today's just the cutest one! We took this photo on our amazing race day (July 8th 2013). Very tiring yet super fun! He's High and she's Moowarn, delegates from Thailand. They're on Table A, the same table with me!

Today's trip is also very exhausting. Felt like an amazing race as well. We started the day at 11 AM, to Yongkang Street. That day, I didn't have to do fasting because I had my period. Then Kati, me and Troy went directly to the Smoothie, for the shaved ice cream. Karen told me to bought the strawberry one and it feels like in heaven, soo delicious!! Too bad Cecilia couldn't join us because she had to accompany her grandmother that day.

After that, we went to Taipei Main Station and take a walk for quiet some time while waiting for Kissing. The station was soo crowded!! We took the train and bus to reach Jiufen Old Street. Such a nice place for eating combined with atmosphere of old street, cultural and cute stuffs from Taiwan. If you go to Taiwan and look for souvernirs with cheap price, then Jiufen is the answer. We ate taro ball cold soup in a restaurant, and we can see a beautiful scenery of from above. Very romantic!!

Then we went back to Taipei by bus. It took about 1 hour. We slept deeply on the bus until we arrived Taipei. We took a little walk to Taipei 101 and we met Lewis there. We went directly to the observatory room and we had to wait for about 20 mins on the line in order to go to the 89th floor. I'm wondering about the 101st floor actually... Hmm. About the observatory room, it was BEYOND AMAZING!! SOOOOO COOOL!! The officer will give you an audio phone (?) so you will be able to recognized the places around there from up above.

After that, we went to Shilin Night Market. Too bad, Kissing had to go home :( But Dio and Cecilia were joining us there :D If you want to do shopping, then this would be the best place. I REGRET not to come there earlier, and come there on my last day of stay instead. SO REGRETFUL. But, that's okay. Better to be late than never, right?? We ate a lot there, like A LOT! Cold Noodle was our dinner + the famous stinky tofu :D

After that we went back home to Cecilia's apartment by taxi. SOO EXHAUSTING, yet I can say that it was one of the best day in my summer :))

XOXO,
NSA.

Sunday, July 21, 2013

Day 10: Tao Ming Se

July 19th 2013
It's so hard to find someone who's similar with Tao Ming Se in Taipei. Ah, you guys know who Tao Ming Se is right? He's Taiwanese famous actor who played the TV drama called "F4". If you guys hippie enough, then you would've known this guy! So, I decided to assume Cecilia's boyfriend as Tao Ming Se. His name is Ian. Hahaha. He's physically similar, I guess, maybe, uh huh.

In front of Eslite bookstore
Actually today, on the 10th day of my trip, July 20th, me and Cecilia and Kati went to the C.K.S Memorial Hall and Sun Yat Sen Memorial Hall. And then we met Troy at Sun Yat Sen Memorial Hall. He went to SYS Memorial Hall directly from his meeting. How sweet right! So, as an award for him, I would say that he has the same characteristic as Tao Ming Se. As in: annoying, cool, silly, funny, kind, patient, sleepy, hahaha. Such a best buddy! I guess he's also everyone's buddy. This picture below shows how I miss this little brother so much! Wish u all the very best, Mr. President of ALSA Soochow + ALSA Taiwan's NB! Such an important person, eh? HAHA :P

After that we went to Taipei 101. At Taipei 101 I shopped a lot at Zara and took quiet much time there, then we didn't have enough time to go to the Observatory Room of Taipei 101. So sorry guys :( at Taipei 101 Ceci had to do some stuffs with her friends so she got to go home earlier and didn't join our dinner. We had a dinner with other 5 Thailand delegates (Froid, Uw, Moowarn, Palmy, Nam) and Clup from Singapore and Lewis, Jane, Dave, Willyam from Taiwan at a place called ... ahhh why I always forgot the name in Chinese x_X I'll try to figure out later guys. For those who want to go to Taipei, I recommend u to go there! But not for vegan! The price is around 500 - 550 NTD, but so worth it! The ice cream also tastes veeeery nice :9 try the honey taste one! Kati and I was so full of meat that we could change ourselves into cows!! MOOOOOOO!!!

XOXO,
NSA.

Thursday, July 18, 2013

Day 9: With Caretaker

July 18th 2013
Can't believe all of us should check out this morning. I was so sad when Karen said goodbye to me. I couldn't hold my tear :( Thanks to all OC, Staff, for organizing this cool ST!!!

Okay, my caretaker is Scott Li. I told you already from the very beginning. Actually today I forgot to take picture with him... He's so busy -_- And we seldom take photo together, because he prefer to be behind the cam instead of in front of the cam. But thankfully I got the photo of him. This was taken when he advised me on edible food to eat for moslem people (since food in Taiwan usually mixed with pork, having him as my caretaker is the best thing I could ever imagine!).

Let me tell about him a little bit. He's more than just a caretaker. He's like my brother. If I never asked his age, he would perfectly be my older brother. He's really concern about me and Kati's food, because we can't eat pork. He's also the one who always try his best to provide us room for praying :") He reminded us about our break fasting time, tell us the direction to pray, etc. His English is good and I could have such long talk with him. Such a perfect translator :)

Although he's not an extrovert person, I know that he cares a lot about his delegates. Although he's younger than me, sometimes I feel like he's so mature and more well organized than me. He's kinda serious person, so that when he smiles, I feel sooo happy :D

Lastly, I just want to say thank you for everything Scott. You're the best caretaker! So grateful to have you as my caretaker! Hope to see you in Indonesia, then I'll be your caretaker hahaha. SERIOUSLY!

By the way I am so excited that today I will meet Cecilia, my Taiwanese girl I knew from AIESEC Camp last year. SOOOO EXCITEDDDDD!!

XOXO,
NSA.